Sabtu, 17 November 2012

Gaya Hok Ahok yg Sok Kereng di Kritik Jenderal yang Pernah Pimpin Ibukota RI itu

0 komentar
[imagetag]


Sutiyoso Kritik Gaya Kepemimpinan Ahok yang Keras
Minggu, 18/11/2012 12:30 WIB

[imagetag]
mantan Gubernur DKI, mantan Jenderal Kopassus, Sutiyoso

Jakarta - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mengkritik sikap Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang menunjukkan kemarahannya kepada bawahannya di depan umum. Sutiyoso menilai sikap itu tidak perlu ditunjukkan. "Tidak perlu seperti itu," kata Sutiyoso usai menghadiri acara Milad ke-100 Muhammadiyah di GBK, Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (18/11/2012).

Sutiyoso mencontohkan, di dalam militer, sorang panglima tidak akan memenangkan peperangan tanpa ada anak buah di garis depan. "Seperti halnya pemerintahan. Yang di garis depan adalah para kepala dinas dan mereka harus dirangkul dengan baik," terangnya. "Ada prinsip-prinsip. Jangan mempermalukan mereka di depan publik," imbuhnya.

Namun, Sutiyoso juga memuji sikap tegas dari Ahok. Menurut Sutiyoso, ada beberapa hal yang tidak perlu dipertontonkan kepada masyarakat. "Yang penting adalah transparansi," ujarnya.
http://news.detik..com/read/2012/11/...991101mainnews


[imagetag]
Sutiyoso saat Gubernur DKI bersama Danjen Kopassus

Sutiyoso: Ada Lima Faktor Penyebab Rakyat Tak Lagi Murah Senyum
Rabu, 06 Oktober 2010 , 14:52:00 WIB

RMOL. Tingkat kualitas dan kuantitas konflik juga perkelahian sosial menanjak naik sejak reformasi 1998 digulirkan. Kenapa rakyat menjadi mudah sensitif? Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mempaparkan, ada lima faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam hal ini yang diyakininya telah berubah total. Sebelum reformasi bergulir, dalam ingatannya masyarakat Indonesia lebih terkesan manut (penurut), ramah dan murah senyum. Walaupun saat itu dibawah belenggu penguasa Orde Baru tapi setelah reformasi menjadi brutal dan beringas.

Aparat kepolisian dan TNI mengalami kapasitas kewenangan yang cukup dratis. Jika dulu semua kewenangan pengamanan diborong oleh TNI, saat ini diambil semua oleh polisi. "Padahal rasio polisi dan masyarakat itu satu banding 600, termasuk polisi yang bukan lapangan," tutur Sutiyoso dalam dialog kenegaraan bertajuk "Maraknya Konflik dan Kekerasan Ciri Disfungsi Negara?" di pressroom DPD, Gedung Nusantara IV, Senayan, Jakarta, Rabu (6/10).

Faktor ketiga, sebutnya, adalah ekonomi. Semakin luas lapangan pengangguran di Indonesia akan memicu rawan konflik sosial. Selain itu, juga diakibatkan tumpah tindih atau ketidakjelasan kewenangan dari petugas keamanan setempat. "Contoh simpel Satpol PP dan polisi saja suka berebutan mengatasi masalah parkiran mobil," kata Sutiyoso mencontohkan.

Terakhir adalah faktor penegakan hukum yang tidak konsisten. Setelah reformasi digulirkan semua seolah-olah menjadi ditolerir. Aparat keamanan pun enggan memberikan teguran. "Rakyat kita terlalu dibiarkan. Misalnya melakukan perampokan, asalkan dilakukan berjamaah akan dibiarkan begitu saja. Jadi rakyat menerjemahkan demokrasi secara keliru," tukasnya.
http://www.rmol.co/read/2010/10/06/5...-Murah-Senyum-

------------------------

Gaya kepemimpinan di Indonesia itu adalah paternalistik. Anak buah selalu mengidolakan Bapaknya sebagai sumber inspirasi dan keteladanan. Falsafah kepemimpinan yang pernah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara "Tut Wuri Handayani - Ing Ngarso Sun Tulodo - Ing Madyo Mangun Karso", seharusnya dipahami oleh si Ahok. Meski Jakarta itu adalah ibukota RI, tempat asal etnis Betawi, tapi Sensus Penduduk menunjukkan yang mayoritas mendiami Jakarta adalah migran asal jawa. Dan saat Pilkada DKI kemaren itu, orang jawa yang banyak memenangkan Jokowi-Ahok (baca ini). Kala orang jawa dipimpin dengan gaya Ahok yang memakai konsep 'manajemen konflik' seperti yang dipertontonkannnya di Youtube itu, jelas kagak tepat. Model kepemimpinan dengan pendekatan manajemen konflik itu, hanya cocok dilaksanakan di perusahaan bisnis yang falsafahnya dari budaya masyarakat individualistik seperti di perusahaan asing MNC's asal Barat (AS, Eropa, Australia).

Leave a Reply